Perubahan Sistem Parkir di Kampus Unpad

Unpad.ac.id, 30/06/2011] Mulai hari ini, sistem parkir di Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri (Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung) mengalami beberapa perubahan. Salah satunya adalah perubahan lokasi pintu masuk (gate) bagi parkir sepeda motor. Jika sebelumnya pintu masuk berada di dekat pos satpam, kini pintu masuk terletak agak di tengah dari jalur parkir.

“Dari hasil evaluasi selama ini, parkir sepeda motor terlihat masih awut-awutan (tidak teratur). Lokasi gate di ujung dekat pos satpam membuat ada lokasi parkir yang kosong, tapi ada juga lokasi yang sangat penuh. Dengan memindahkannya ke tengah, harapannya lokasi-lokasi yang kosong itu bisa terisi sehingga lebih merata,”ujar Kepala Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Unpad, Edward Henry, S.Ip., MM.

Perubahan lainnya, lanjut Edward, para pengguna parkir kini harus melakukan pembayaran biaya parkir saat masuk, bukan saat keluar seperti sistem sebelumnya. Pembayaran parkir di pintu masuk ini berlaku untuk parkir mobil maupun sepeda motor, dengan tarif yang sama seperti selama ini yaitu flat Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 2.000 untuk mobil.

Dalam beberapa hari ini, para pengguna parkir masih akan menemui pelayanan karcis secara manual karena ada pergantian operator parkir. Kini, parkir di lokasi kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung dikelola oleh Brave Parking, menggantikan operator sebelumnya Line Parking.

“Karena perubahan operator ini, dalam beberapa hari ke depan pengguna parkir masih akan menemui penanganan secara manual. Ini karena perlu waktu untuk pemasangan jaringan, pembangunan pos, dll. Targetnya tanggal 1 Juli 2011 mendatang, sistemnya sudah siap semua,” jelas Edward.

Edward pun menegaskan, bagi pegawai Unpad yang datanya telah tercatat tetap akan mendapatkan fasilitas parkir gratis. Namun ia mohon maaf bila dalam proses penyesuaian dengan sistem baru ini ada data yang terlewat.

Dalam rangka penataan lokasi parkir, Unpad juga telah menyiapkan lokasi yang dulu ditempati oleh Koperasi Mahasiswa (Kopma) Unpad untuk menjadi lokasi parkir baru. Selain itu, lokasi parkir di Balai Kesehatan Unpad juga akan ditata ulang. Kopma dan Balkes Unpad terletak di Jln. Dipati Ukur, tak jauh dari lokasi kampus Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung.

“Lokasi di lahan bekas Kopma Unpad secara ideal diperkirakan dapat menampung 235 sepeda motor. Lahan tersebut mungkin baru bisa digunakan pada Agustus 2011 mendatang. Lokasi parkir di Balkes Unpad juga akan mengalami penataan supaya lebih tertib,” ujar Edward. *

Pemkot Siapkan Dua Lahan Parkir

INILAH.COM, Bandung – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung telah menyiapkan lahan parkir untuk menata pedagang kaki lima (PKL) Gasibu yang rencananya dipindahkan ke Jalan Wirayuda dan Japati, Minggu (3/6/2011)

“Sudah disiapkan ada lahan parkirnya, yaitu di Jalan Gagak dan sekitarnya serta Jalan Dipatiukur,” kata Kepala Dishub Kota Bandung Prijo Soebiandono kepada wartawan di sela acara ‘Kampanye Sekolah Sehat’ di SMAN 2 Bandung Jalan Cihampelas Kota Bandung, Kamis (23/6/2011).

Prijo menjelaskan, penyediaan lahan parkir tersebut untuk menghindari terjadinya kemacetan di kedua ruas jalan tersebut. Lahan parkir tersebut berada tidak jauh dari lokasi PKL Gasibu atau sekitar 100-200 meter.

“Arus lalu lintas harus lancar. Kita uji coba parkir tersebut. Baru dipermanenkan dan ditertibkan semua untuk tarif parkirnya seperti apa,” tandasnya.

PKL Gasibu memang ditargetkan mulai pindah ke Jalan Wirayuda dan Japati pada 3 Juli mendatang. Dari 4.300 PKL yang telah didata, hanya 3.591 PKL yang berasal dari Kota Bandung. PKL yang berasal dari luar kota otomatis tidak boleh berjualan di kedua ruas jalan tersebut.

Kedua ruas jalan tersebut hanya dapat menampung 1.500 PKL. Untuk itu, waktu berjualan para PKL akan dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok A dan B.

Kelompok A dijadwalkan berjualan pada minggu pertama dan ketiga. Sementara kelompok B berjualan di minggu kedua dan keempat

PERANCANGAN KONSTRUKSI MEKANIK PINTU OTOMATIS PADA PABRIK

Perancangan alat ini dilakukan untuk memperoleh desain konstruksi mekanik pintu otomatis pada pabrikdengan dimensi 6 x 2 meter, mudah dibuat dan mudah ditiru serta untuk jangka panjang alat ini diharapkan lebih efisien dibandingkan dengan pintu manual yang selama ini ada. Sasarannya pintu untuk pabrik dengan shift pergantian pekerja lebih dari 2 kali sehari. Konseo desain ini berdasarkan pada pengamatan terhadap berbagai pintu otomatis yang menggunakan jenis motor AC 3 kutup dengan daya 1,5 Hp dan putaran 1600 Rpm. Hasilnya berupa rancangan pintu dengan model segi empat, dimana motor listrik dikontrol untuk mengerakan pintu, pengendalian arah putaran motor digunakan rangkaian driver biasa. Output dari motor ini berupa putaran yang kemudian dihubungkan belt konvenyor dan gear-gear, kemudian konvenyor dan rol-rol ini dihubungkan ke daun pintu. Pintu dihubungkan dengan belt konvenyor pada bagian atasnya. Pada saat motor bergerak kekanan maka daun pintu akan bergerak ke arah yang berlawanan. Fungsi dari gear ini adalah untuk memudahkan belt konvenyor berputar sehingga dapat mengurangi gesekan antara belt konvenyor dengan penyangganya, sehingga putaran dapat semakin lancar. Perancangan dilakukan untuk memperoleh desain pintu yang lebih baik. Perancangan dispesifikasikan pada perhitungan bahan-bahan yang akan digunakan pada konstruksi mekanis pergerakan pintu.

Untuk Tingkatkan Pendapatan Dishub Kab. Bandung Kaji Sistem Parkir Berlangganan

BANYUWANGI,(PRLM).- Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kab. Bandung melalui retribusi parkir, Dinas Perhubungan (Dishub) Kab. Bandung akan melakukan kajian serta regulasi perihal pemberlakuan sistem parkir belangganan.

“Selama tiga tahun dari 2008-2010, target PAD melalui retribusi parkir tidak tercapai. Untuk 2008 capaian hanya Rp 223 juta dari target Rp 300 juta. Tahun 2009 capaian Rp 236 juta dengan target Rp 450 juta. Dan, 2010 capaian hanya Rp 251 juta dari target Rp 457 juta,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kab. Bandung, Yayan Subarna seusai rapat pertemuan dengan DPRD Kab. Banyuwangi dan Pemkab Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (15/3).

Munurut dia, tidak tercapainya target pada masing-masing tahun karena institusi yang terlibat dalam pemungutan retribusi parkir, bukan hanya Dishub. Akan tetapi, banyak yang terlibat dalam keikutsertaan retribusi parkir. “Setidaknya ikut meminta jatah dari para juru parkir di lapangan, dengan alasan keamanan, kebersihan, dan lain-lain sehingga setoran akhir ke Dishub sangat berkurang jumlahnya,” ujarnya.

Untuk mengatasi kebocoran itu, kata dia, diperlukan kesepakatan serta kerjasama antarsemua pihak yang terkait untuk memberlakukan sistem parkir berlangganan dengan pembayaran masuk dalam satu mekanisme pembayaran pajak kendaraan bermotor.

“Kita kaji semua aturan-aturan lalu kita perbaiki. Selain itu kita akan lakukan rapat koordinasi dengan Samsat Kab. Bandung. Kita juga akan membuat kesepakatan dengan juru parkir di lapangan agar pungutan liar itu hilang,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubinfo) Kab. Banyuwangi, Ketut Kencana Nirha Saputra mengatakan, apabila Kab. Bandung ingin menerapkan sistem parkir berlangganan diperlukan beberapa langkah awal. Pertama, melakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti Dispenda Provinsi Jawa Barat, dan Polres Bandung. Kedua, disepakatinya kerjasama pemberlakuan parkir berlangganan dengan pembayaran masuk dalam satu sistem pembayaran pajak kendaraan bermotor yakni melalui Samsat.

“Dan, yang terakhir lakukan sosialisasi seluas-luasnya seperti melalui media cetak, elektronik, dan spanduk-spanduk yang dipasang di tempat-tempat strategis,” katanya.

Rebutan Lahan Parkir

JAKARTA – Dua kelompok dari organisasi masyarakat Betawi bentrok di Jalan Samanhudi, Sawah Besar, Jakarta Pusat, sekira pukul 20.00. Bentrokan terjadi gara-gara rebutan lahan parkir.

Kapolsek Sawah Besar Kompol JR. Sitinjak mengatakan bentrokan terjadi persisnya didepan area parkiran pasar baru.

“Diperebutkan itu parkiran Seven Elevent yang baru akan dibangun,” ujarnya saat dihubungi okezone, Jumat (24/6/2011).

Beruntung bentrokan dua ormas tidak menimbulkan korban. Dari informasi yang diperoleh, bentrokan berawal ketika salah satu ormas merasa lahan parkiran miliknya diambil kelompok lainnya. Tidak terima lahannya direbut, salah satu dari kelompok kemudian melaporkan kepada rekan mereka lainnya.

Merasa mendapat perlawanan, kelompok lainnya pun memanggil kawannya hingga keributan tersebut pecah. Petugas patroli gabungan dari Polsek Sawah Besar dan Polres Jakarta Pusat yang mengetahui langsung datang ke lokasi, keributan pun dapat langsung dilerai.

Untuk menghindari terjadinya bentrokan lanjutan, polisi memutuskan untuk memediasi dua tokoh dari kedua kelompok. Sejumlah polisi juga masih berjaga di sekitar tempat kejadian.

Foke Resmikan Sistem Parkir Elektronik

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan sistem parkir elektronik di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Sistem parkir ini diharapkan bisa menjadi solusi parparkiran di pusat belanja dan bisnis itu.

Foke sempat menjajal sistem parkir otomatis yang terletak di Jalan Melawai IV ini. Foke mengemudikan sendiri mobil Toyota Land Cruiser hitamnya melewati palang parkir.

Seorang petugas memberikan kartu parkir berwarna oranye putih kepada Foke. Kemudian Foke memacu mobilnya menuju tepat peresmian yang terletak tidak jauh dari pintu masuk itu.

“Saya tadi sudah mencoba sistem ini dengan menggunakan smart card ini. Sistem ini berfungsi dengan baik. Mudah-mudahan semua berfungsi baik, bukan hanya pada saat gubernurnya lewat saja,” kata Foke, Rabu (9/3/2010).

Foke menjelaskan, dalam jangka panjang parkir di pinggir jalan akan dibatasi. Ia berharap sistem ini terus dikembangkan sehingga bisa menertibkan perparkirkan di Jakarta.

“Mudah-mudahan sistem baru ini dapat menjadi pilot project solusi masalah parkir di Jakarta,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakata Udar Pristono menyatakan pengelolaan parkir di Melawai dilakukan dengan sistem kerja sama antara Pemprov dan pengelola Blok M Square.

Menurutnya tarif parkir di luar Blok M Square akan menjadi hak Pemprov DKI. Sedangkan tarif parkir di dalam Blok M Square akan menjadi hak pengelola pusat perbelanjaan tersebut.

Pantauan detikcom, terdapat dua tarif parkir yang berlaku di kawasan Melawai. Untuk motor yang parkir di luar Blok M Square dikenakan tarif Rp 750 untuk satu jam pertama. Sedangkan untuk yang parkir di dalam Blok M Square dikenakan tarif Rp 500.

Sedangkan untuk mobil yang parkir di luar Blok M Square dikenakan tarif Rp Rp 3.000 untuk satu jam pertama. Sedangkan untuk mobil yang diparkir di luar Blok M Square dikenakan tarif Rp 2.000.

Pasa Ateh Butuh Lahan Parkir

Bukittinggi, Padek—Pedagang Pasa Ateh Bukittinggi mengeluhkan minimnya tempat parkir. Pedagang mengharapkan pemko segera  mencarikan solusinya sehingga geliat perdagangan Pasa Ateh bisa lebih baik menyamai pasar di kawasan Kota Bukittinggi lainnya.

Salah seorang pedagang di kawasan Blok B Pusat Pertokoan Pasateh Bukittinggi, Mul, mengatakan kendala utama minimnya transaksi ekonomi di kawasan ini, sulitnya pembeli memarkir kendaraannya di kawasan seputaran pasar. Sehingga orang lebih memilih berbelanja di pasar lainnya di Bukittinggi, terutama pembeli dalam jumlah besar.

”Kita berharap pemko mencarikan solusi parkir di kawasan Pasa Ateh yang mulai tidak tertampung lagi. Apalagi animo masyarakat untuk membeli kebutuhan pakaian cukup tinggi,” terangnya.

Meski pedagang mengerti minimnya lokasi parkir di Kota Bukittinggi yang sempit, namun pedagang minta untuk parkir pengunjung Pasa Ateh ada tempat khusus atau ada izin tertentu ketika ingin membawa barang-barang dari dan ke Pasa Ateh.

”Kita berharap parkir dibenahi agar di Pasa Ateh bisa tertampung semua kendaraan pengunjung. Sehingga pembeli bisa dengan leluasa berbelanja. Dengan pedestrian yang baru dibangun sebenarnya kita setuju. Namun di sisi lainnya pengadaan tempat parkir juga seharusnya menjadi perhatian Pemko Bukittinggi,” harapnya.

Hingga saat pedagang hanya bisa pasrah dan menerima kebijakan Pemko Bukittinggi tanpa bisa menolak setiap kebijakan yang akan diambil. Tempat parkir menurut pedagang harus semakin dekat dengan pusat pasar.

Sehingga pembeli dapat memarkir kendaraannya di tempat yang mudah dijangkau untuk mengangkut barang belanjaannya, meski hal itu kadang tidak menguntungkan bagi pedagang,” tambahnya.

Saat ini menurut Mul, parkir di kawasan depan Taman Jam Gadang dan Jalan Minangkabau tidak bisa menampung kendaraan roda dua, apalagi kendaraan roda empat yang hanya bisa di kawasan Jalan Ahmad Yani. “Kita akui Bukittinggi kian sempit. Namun tempat parkir yang representatif juga sangat dibutuhkan di kawasan ini,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (dishubkominfo) Kota Bukittinggi, Riyandi menyebutkan, parkir di kawasan Pasa Ateh di depan simpang Raya kemungkinan akan dimanfaatkan untuk menampung kendaraan roda dua.

“Meski lokasi parkir di depan Rumah Makan Simpang Raya, Pasa Ateh ke mungkinan besar akan dimanfaatkan untuk tempat parkir saat Lebaran nanti. Karena diperkirakan kendaraan roda empat akan membeludak pada saat itu,” jelas Riyandi.

Selain itu tempat parkir yang dikelola oleh Pemuda di kawasan Pasa Ateh juga akan menjadi alternatifnya. Sementara di depan Ramayana dan di depan Istana Bung Hatta dipastikan tidak akan digunakan.  ”Jumlah kendaraan diperkirakan akan semakin padat nantinya,” jelas Riyandi.